Home Organizations Sejarah Awal Pembentukan WALHI
Organizations

Sejarah Awal Pembentukan WALHI

Sejarah Awal Pembentukan WALHI

Sejarah Awal Pembentukan WALHI – Berawal dari Lantai Tiga Belas setelah dua bulan diangkat sebagai Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim berbincang dengan beberapa kawannya.

Seperti Bedjo Rahardjo, Erna Witoelar, Ir.Rio Rahwartono (LIPI), dan Tjokropranolo (Gubernur DKI), untuk membicarakan supaya lingkungan menjadi sebuah gerakan dalam masyarakat.

“Saya ingin bola salju lingkungan hidup bisa cepat membesar,” kata Emil waktu itu (wawancara – pribadi).

Tak cuma itu tujuannya, namun Emil Salim merasa bahwa ia harus belajar mengenai lingkungan, sebab ia melihat bahwa lingkungan ini merupakan sesuatu yang baru dan belum populer di Indonesia.

Ia berkeinginan terjun ke tengah-tengah masyarakat agar persoalan-persoalan lingkungan di masyarakat bisa diketahui dan dicarikan solusi oleh masyarakat. Untuk itulah, ia harus mencari jalan keluar supaya bola salju yang bernama ‘lingkungan’ itu menggelinding lebih besar.

Harapan Emil adalah agar kelompok NGO dan pecinta alam bisa membantu menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan, sebab kedua kelompok ini dianggap mempunyai kedekatan dengan masyarakat.

Sehingga pemerintah melalui lembaga ini bisa menyampaikan programnya kepada masyarakat. Di sisi lain, masyarakat yang tidak bisa menyampaikan permohonannya kepada pemerintah bisa disampaikan melalui NGO.

Tjokopranolo Menggelar Pertemuan

Keinginan Emil Salim yang begitu besar membuat haru seorang kawannya yang saat itu menjadi Gubernur DKI, yaitu Tjokropranolo.

Sampai suatu siang Tjokropranolo menawarkan sebuah ruangan untuk melakukan pertemuan kelompok NGO se-Indonesia. Gayung bersambut, tanpa pikir panjang, Emil Salim langsung menerima tawaran Tjokropranolo untuk melakukan pertemuan NGO seluruh Indonesia.

Pertemuan itu dilakukan di Lantai 13, Balaikota (Kantor Gubernur DKI Jakarta), Jalan Merdeka Selatan.

Tidak disangka, pertemuan mendadak itu dihadiri sekitar 350 lembaga yang terdiri dari lembaga profesi, hobi, lingkungan, pecinta alam, agama, riset, kampus, jurnalis, dan lain sebagainya.

Dalam pertemuan itu, Abdul Gafur (saat itu Menteri Pemuda dan Olahraga), datang menjenguk.

Kabarnya, ia ingin mengetahui apa yang akan dilakukan kelompok NGO dan tanggapan kelompok ini kepada pemerintah. Supaya pertemuan tersebut tidak sia-sia, mereka harus mencari bagaimana memelihara komitmen bersama sekaligus mencari cara berkomunikasi yang efektif di antara mereka.

Menjelang acara usai, muncullah kesepakatan untuk memilih sepuluh NGO yang akan membantu program-program pemerintah dalam bidang lingkungan hidup.

Ke-sepuluh organisasi itu kemudian disebut dengan Kelompok Sepuluh. Awalnya, kelompok ini akan dinamakan dengan Sekretariat Bersama Kelompok Sepuluh.

Tetapi, George Adji Tjondro menolak, dengan alasan kalau sekretariat bersama, seperti underbownya Golkar. Akhirnya, Goerge mengusulkan nama Kelompok Sepuluh. Dan dari lantai 13 itulah, lahir Kelompok 10 yang menjadi cikal bakal kelahiran WALHI.

Author

Paul Jaycess