Home sosial Khusus Jhon Kei di Nusakambangan
sosial

Khusus Jhon Kei di Nusakambangan

Cerita Pengunjung soal Sel Khusus Jhon Kei di Nusakambangan

Cerita Pengunjung soal Sel Khusus Jhon Kei di Nusakambangan – Tangan kanan John Refra Kei, terpidana kasus pembunuhan, menggoreskan canting pada kain putih. Tangan kirinya menahan kain itu agak mengambang untuk membiarkan tintanya menyerap. Badannya masih tetap berotot dan penuh tato.

John Kei sebelumnya dikenal sebagai sosok yang tak ragu menggunakan kekerasan di kawasan Ibukota, Jakarta. Namun, kekuasaannya runtuh setelah pengadilan menjatuhkan vonis 16 tahun penjara atas kasus pembunuhan Bos Sanex Steel Indonesia, Tan Harry Tantono, pertengahan 2013.

Ratna menyebut ada perubahan dari pria kelahiran Maluku itu usai menjalani hukuman selama lima tahun di Nusa Kambangan. Karantina selama berbulan-bulan dari interaksi dengan orang lain, lanjutnya, membuat John memiliki banyak waktu untuk berkontemplasi. Dari sana lah mulai muncul kesadaran tentang Tuhan.

“Kalau keluar saya mau jadi pendeta, kalau balik lagi ke penjara saya ingin menjadi pengabdi Tuhan,” ucap Ratna, menirukan John. Setelah dinilai berubah, John Kei ditempatkan di kelas yang lebih rendah. Mulai dari maximum, dan kini ke medium security.

Perubahan paling signifikan didapat saat dia ditempatkan di penjara super maximum, yang merupakan blok khusus bagi narapidana yang dianggap berisiko tinggi, selama tiga bulan.

Nusa Kambangan sendiri memiliki empat tingkatan pengamanan; Super Maximum Security (Pengamatan Sangat Tinggi), Maximum Security (Pengamanan tinggi), Medium Security (Pengamanan Sedang), dan Minimum Security (Pengamanan Rendah). Model penjenjangan lapas ini baru diterapkan pada Agustus 2017.

Saat ini, kata Ratna, lapas yang mempunyai sel khusus baru ada di lima lokasi, yakni, Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Batu Nusakambangan, Lembaga Pemasyarakatan kelas IIA Pasir Putih Nusakambangan.

Lapas yang mempunyai sel khusus baru

Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas III Langkat di Sumatera Utara, Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas III Kasongan di Yogyakarta, Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Gunung Sindur di Jawa Barat.

Demikian gambaran yang diberikan Tenaga Ahli Kedeputian V Kantor Staf Kepresidenan Ratnaningsih Dasahasta yang mengunjungi John Kei beberapa waktu lalu di Lembaga Pemasyarakatan Parmisan, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Penjara ini membuat John nyaris tak bisa berinteraksi dengan orang lain. Ia menempati sel dua meter kali lima meter selama 23 jam per hari sendirian. Satu jam dalam sehari diberikan untuk keluar sel menuju teras sel dan berinteraksi secara terbatas dengan napi lain serta mendapat sinar matahari.

Semua aktivitasnya dipantau oleh kamera CCTV IDNPlay Poker 99 Asia, baik itu tidur, mandi, membaca buku, marah, menangis, termenung. Bahkan, kata Ratna, John hanya bisa bicara dengan tembok penjara.

Konsep ini, katanya, dibuat untuk memotivasi narapidana menjadi lebih baik, mencegah terjadinya penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang di lapas ataupun di rumah tahanan. Yang ditempatkan di kurungan spesial ini kebanyakan dengan latar belakang pembunuhan, teroris, dan narkoba.

John Kei, kata Ratna, merupakan salah satu dari narapidana yang pertama kali masuk lapas super maximum risk. Hasilnya pun terlihat signifikan. Ke depannya, Ratna menyebut Pemerintah akan memperbanyak lapas jenis ini setidaknya satu di tiap provinsi. Tujuannya, efektivitas pembinaan, terutama napi yang berkategori membahayakan atau high risk.

“Tidak ada yang mampu bertahan di Lapas Super Maximum, sehebat apapun dia,” kata John seperti ditulis oleh Ratna, di laman nawalaksp. Ketika itu, John tengah menjalani keterampilan yang ia pilih saat menjalani hukuman di sel berkategori medium risk atau resiko menengah.

Author

Paul Jaycess

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *